Manfaat Bacaan Dzikir لا إله إلا الله Minimal 165x Sehari, Ini Yang Akan Kamu Dapat

Inilah Keistimewaan Dzikir La Ilaha Illallah, Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Kalimat Tauhid (La Ilaha Illallah) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung.”

Mungkin diantara kita masih ada yang belum tahu Keistimewaan Dzikir La Ilaha Illallah ini, berikut adalah beberapa keutamaan dzikir tahlil “La Ilaha Illallah”,

1. Laa Ilaha Illallah Menjadi Kunci Surga
Kalimat ‘La ilaha illallah’ merupakan harga surga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘la ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Dawud no. 1621)

2. Dzikir Laa Ilaha Illallah Adalah Kebaikan dan Dzikir yang paling Utama
Kalimat ‘La ilaha ilallah’ adalah kebaikan yang paling utama, Abu Dzar berkata,”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.”

Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘la ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.”
Kalimat ‘La ilaha illallah’ adalah dzikir yang paling utama, Dari Jabir radhiyallohu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Dzikir yang paling utama adalah la ilaha illallah, dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah.”(HR. Ibnu Majah, An Nasa’I – Shohih Targhib wa Tarhib : 1526 )
3. La Ilaha Illallah Menjadi Pelindung Api Neraka
Kalimat ‘La ilaha ilallah’ adalah pelindung api neraka, Dari Umar rodhiyallohu ‘anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaha illallah.” (HR. Hakim – Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 ).
Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam mendengar muadzin mengucapkan ‘Asyhadu alla ilaaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi, “Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)
4. Laa Ilaaha Illallah Menjadi Jaminan Masuk Syurga
Dari Zaid bin Arqam Radiallahuanhu meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya, “Barangsiapa yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan ikhlas, dia akan dimasukkan ke dalam syurga.”
Lalu ditanya kepada baginda SAW, “Bagaimanakah yang dimaksudkan dengan ikhlas itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.” (Hadis riwayat at-Tabarani)
5. Laa Ilaaha Illallah Adalah Dzikir Dan Perantara Doa
Kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ adalah dzikir dan perantara doa, Dari Abu Sa’id Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
Musa berkata: Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu, yang aku akan berdzikir dan berdoa kepada-Mu dengannya. Allah berfirman: Wahai Musa ucapkanlah Laa ilaaha illallah.
Musa berkata: Wahai Tuhanku seluruh hambaMu mengucapkan kalimat ini.
Allah berfirman: Wahai Musa ! Seandainya langit tingkat tujuh dan apa yang ada didalamnya serta bumi tingkat tujuh selain Aku diletakkan di suatu timbangan, dan laa ilaaha illallah diletakkan di timbangan yang lain, maka akan berat timbangan laa ilaaha illallah.” (HR. Ibnu Hibban, Hakim – Fathul Bari : 11/28 )
6. Laa Ilaaha Illallah Dzikir Yang Menunda Kiamat
Kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ menunda kiamat, Dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat (apabila) masih ada orang yang menyebut laa ilaaha illallah”. (HR. Ibnu Hibban, – Ta’liqotul Hisan: 6809, Ash Shohihah: 3016)
7. Baca Laa Ilaaha Illallah 100 Kali Sehari, Ini Keutamaannya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ
“Barangsiapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa). Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.”
وقال : مَنْ قَالَ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ ، حُطَّتْ خَطَايَاهُ ، وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ
Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan SUBHANALLAHI WA BI HAMDIH (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya) sebanyak seratus kali sehari, terhapuslah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari, no. 6403 dan Muslim, no. 2691)
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَالَ لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، عَشْرَ مَرَّاتٍ . كَانَ كَمَنْ أعْتَقَ أرْبَعَةَ أنْفُسٍ منْ وَلَدِ إسْمَاعِيلَ
“Barangsiapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat jiwa dari anak keturunan Isma’il.” (HR. Bukhari, no. 6404 dan Muslim, no. 2693)
Keistimewaan Dzikir La Ilaha Illallah, Inti Dari Segala Dzikir
Imam Haddad berkata:
Jadikanlah kalimat tauhid Laa ilaaha illallah sebagai wirid yang senantiasa kau baca. Sesungguhnya kalimat ini adalah ruh (pokok) dari segala dzikir, dan kepadanya kembali seluruh dzikir. Makna semua dzikir juga tercakup di dalam kalimat tauhid ini.
Jika ada waktu luang dan bingung mau membaca dzikir apa, ambillah kalimat tauhid sebagai dzikir Laa Ilaaha Illallah yang menemanimu sehari-hari. Sambil jalan ke sekolah, naik kendaraan, sebelum tidur dan lain lain daripada sibuk melamun, lebih patut untuk ‘cari pahala’ dengan berdzikir laa ilaaha illallah.
Para arif billah berkata:
أكثر من لا اله الا الله حتى تصير كلك لا اله الا الله
“Perbanyak kalimat Laa ilaaha illallah hingga tiap tarikan nafasmu dan tiap degupan jantungmu menyatu dengan kalimat ini.”
Habib Umar bin Hafidz berkisah:
Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf Jeddah adalah termasuk seorang ulama yang suka melazimi dzikir La ilaaha illallah.
Beberapa tahun sebelum wafat beliau ditimpa sakit keras hingga para dokter angkat tangan dan berkata bahwa kematian beliau sudah dekat.
Anehnya, terdapat seorang dokter dari Sudan yang memeriksa detak jantung beliau. Detak jantungnya normal.
Dan yang luar biasa, dengan kecanggihan alat modern, dokter tersebut berkata, “Jantung orang ini mengucap kalimat La ilaaha illallah”
Jasadnya memang lumpuh tak bergerak, alat-alat kedokteran berada di seluruh badannya, tak mampu diajak berkomunikasi, namun hati dan jantungnya tak pernah lalai dari zikir nama Allah. Dan beliau senantiasa berada di hadratillah.
Keluarganya pun memutuskan membawa beliau pulang dan dirawat di rumah mengikuti saran seorang soleh. Si dokter berkata,
“Jika kau lepas semua peralatan ini, maka aku pastikan umurnya berakhir.”
Umur manusia di tangan Allah, bukan di tangan dokter atau manusia siapapun.
Alat-alat kedokteran pun dilepas dari tubuhnya, seketika itu pula beliau membuka matanya dan bergerak. Ketika sampai di rumah, beliau berjalan, pulih kesehatannya, berkat dzikir Laa Ilaaha Illallah yang beliau lazimi, berkat keagungan nama Allah yang telah menguasai seluruh hati dan jiwa raganya.
Mari kita agungkan nama Allah di hati kita. Kita hidupkan hati kita dengan senantiasa berdzikir kepadaNya, menyebut nama-Nya, mencintai-Nya sepenuh hati. hingga kita mengakhiri hidup kita dengan kalimat Laa ilaaha illallah, Allah bangkitkan kita di hari kiamat dengan kalimat Laa ilaaha illallah dan di bawah bendera Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Aamiin

Komentar

Tahsinul Qiro'ah